Pages

Subscribe:

Rabu, 24 Oktober 2012

Luas Daerah, Jumlah Penduduk dan Rata-rata Kepadatan Penduduk Per Kecamatan Tahun 2011



No
Kecamatan
Luas Daerah
Penduduk
Kepadatan
(Km²)
1.
Sangir
632,12
39.034
61,75
2.
Sangir Jujuan
278,63
11.834
42,47
3.
Sangir Balai Janggo
631,35
16.055
25,43
4.
Sangir Batang Hari
751,66
13.328
17,73
5.
Sungai Pagu
358,40
28.884
80,59
6.
Pauh Duo
265,31
15.175
57,20
6.
Koto Parik Gadang Diateh
672,66
23.059
34,28

Jumlah
3.590,13
147.369
41,05


Diedit Admin : 12 Austus 2012

Senin, 22 Oktober 2012

BAGAIMANA BERIMANNYA NABI IBRAHIM?


Judul
:

Penulis
Landasan/Dalil
:
:
Drs Izharman LM M.Ag
QS. Al-An'am: 76-79




Berbicara tentang masalah Qurban dan Haji seorang muslim tidak bisa melupakan dua tokoh berpengaruh yaitu nabi Ibrahim As dan anaknya nabi Ismail As, walaupun perintah qurban yang pertama kali bukanlah pada nabi Ibrahim sebab dizaman nabi adam  anaknya habil dan abil juga ada semacam qurban, sebelum lebih jauh menitik beratkan tentang qurban ada baiknya kembali diingatkan tentang berimannya nabi Ibrahim As.
Pada zaman nabi Ibrahim banyak masyarakat yang menyembah berhala bahkan ayah beliau sendiri pemahat patung berhala, bayangkan kaum muslimin, betapa sulitnya tantangan yang akan beliau hadapi menjelang berimannya nabi Ibrahim, salah satu hikmah dari kisah nabi Ibrahim ini cukup jadi alasan bagi kita, agar tidak mengidentikkan seorang ayah dengan anak, walaupun pengaruh ayah dan ibu ada dalam menjadikan seorang anak beriman atau tidak kepada Allah swt, jangan terjadi lagi ditengah masyarakat saat anak yang salah yang ditanya siapa orang tuanya, padahal orang tua si anak tidak pernah mengajarkan keburukan pada anaknya.
Dizaman nabi Ibrahim juga hidup seorang raja yang terkenal dengan kekejamannya, namanya Namrud, ini juga tantangan bagi beliau menjelang mendapat hidayah iman yang tangguh, secara singkat dikisahkan. Pada suatu ketika Namrudz mendapat firasat yang menunjukkan, bahwa kelak akan lahir seorang anak laki-laki yang dapat menggulingkan kekuasaannya. Saat itu Namrudz menjadi gelisah dan cemas, akan firasatnya yang benar-benar akan terjadi. Maka Namrudz mengeluarkan undang-undang kerajaan, bahwa tidak ada satupun yang hidup dari bayi laki-laki dalam tahun ini, bila ada bayi laki-laki yang lahir id tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, ia pun memerintahkan seluruh prajuritnya untuk menyebar kesegala penjuru daerah untuk mendata perempuan yang sedang hamil. Tanpa ada rasa kemanusiaan semua bayi laki-laki yang baru saja lahir langsung dibunuh.
Donut: 1Ketika Nabi Ibrahim dilahirkan, ayahnya tidak kuasa untuk membunuh anaknya, nabi Ibrahim kemudian dibuang saja oleh ayahnya ke dalam hutan dengan fikiran nabi Ibrahim akan mati juga dimakan binatang buas. Tetapi kehendak Allah diluar kemampuan akal manusia, nabi Ibrahim dalam penjagaan Allah sehingga tak satupun binatang buas yang berada didalam hutan untuk mengganggu atau memakannya, bahkan nabi Ibrahim dalam keadaan sehat, karena Allah telah memberikan bila Nabi Ibrahim mengisap jarinya maka keluarlah madu yang manis, sehingga dengan demikian nabi Ibrahim tidak merasa lapar dan haus. Tentu saja kejadian ini adalah aneh bagi kita, namun bagi Allah itu mudah, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Inilah yang dinamakan IR-HASH, yaitu sesuatu keganjilan luar biasa yang terdapat pada diri Rasul semasa kecilnya dengan izin Allah Swt. Setelah serang beberapa lama kemudian, ayah beserta ibunya mencoba menengok anaknya di gua tempat Nabi Ibrahim disembunyikan. Mula-mula mereka berkeyakinan anak pasti sudah mati, setelah mereka sampai disana, mereka terkejut melihat anaknya dalam keadaan sehat-sehat saja. Sejak itulah mereka sering menengok nabi Ibrahim secara sembunyi- sembunyi. Selama satu tahun nabi Ibrahim tinggal didalam gua, setelah umur nabi Ibrahim satu tahun, orang tuanya membawa nabi Ibrahim pulang kerumah, karena masa pemberlakuan undang-undang kerajaan yang memerintahkan bahwa jika yang lahir anak laki-laki harus dibunuh. Semakin hari nabi Ibrahim semakin dewasa, ia pun mulai bertanya kepada orang tuanya, siapa yang menciptakan alam.
"Wahai ibu dan ayahku, siapa yang telah menjadikan aku ini? Jawab ayahnya, ''Ayah dan Ibu yang menjadikan kamu, karena kamu lahir disebabkan kami". Kemudian Ibrahim bertanya lagi: "Dan siapa pula yang menjadikan Ayah dan Ibu? Jawab orang tuanya: "Ya Kakek dan nenekmu." Demikian tanya jawab seterusnya sampai ketitik puncak, nabi Ibrahim menyatakan: "Siapakah orang pertama yang menjadikan semua ini? Maka orang tuanya tidak bisa menjawab, karena mereka tidak tahu kepada Tuhan. Ibrahim kemudian bertanya kepada orang lain, namun mereka semua tidak bisa menjawab. Nabi Ibrahim kemudian menggunakan akal dan fikirannya untuk mencari Tuhan Sang Pecipta alam semesta ini, karena akal manusia sangat terbatas, nabi Ibrahim gagal untuk mengetahui siapa sebenarnya yang telah menciptakan alam semesta ini.
rman Allah Swt.  "Ketika hari telah malam, Ibrahim melihat bintang, katanya: Inilah Tuhanku...? Maka setelah dilihatnya bintang terbenam, ia berkata: Saya tidak akan berTuhan pada yang terbenam. Kemudian ketika melihat bulan purnama, iapun berkata lagi: Inilah Tuhanku...? Setelah bulan itu lenyap, lenyap pula pendapatnya berTuhan kepada bulan itu, seraya berkata: Sungguh kalau tidak Tuhan yang memberi petunjuk, tentu saya menjadi sesat. Maka ketika siang hari, nampak olehnya matahari yang sangat terang, ia pun berkata: Inikah Tuhanku yang sebenarnya...? Inilah yang lebih besar. Setelah matahari terbenam, iapun berkata: Hai kaumku! Saya tidak mau mempersekutukan Tuhan seperti kamu. Saya hanya bertuhan yang menjadikan langit dan bumi dengan ikhlas dan sekali-kali saya tidak mau menyekutukanNya." (QS. Al-An'am: 76-79) Itulah cara Nabi Ibrahim as. mencari Tuhan dengan menggunakan akal fikiran untuk memperhatikan alam sekitarnya.
Akhirnya Allah memberikan hidayahnya, nabi ibrahimpun menjadi rasul yang ketauhidannya tidak diragukan lagi, bahkan sampai pada suatu ujian penyemblihan anaknya, dikisahkan saat Nabi
 Ibrahim berusia 100 tahun beliau belum juga dikaruniai putra oleh Allah dan beliau selalu  berdoa:
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang saleh" (Q.S 37:100)  Kemudian dari istrinya yang kedua yakni Siti Hajar yang dinikahinya ketika Nabi  Ibrahim mengadakan silaturahmi ke Mesir (setiap kedatangan pembesar diberi hadiah  seorang istri yang cantik oleh pembesar Mesir). Dari Siti Hajar lahirlah seorang putra  yang kemudian diberi nama Ismail, ia lahir di tengah-tengah padang pasir kemudian dikenal dengan Mekkah.
Pada saat Nabi Ibrahim diberi petunjuk oleh Allah, agar meninggalkan istrinya Siti Hajar  dengan seorang putranya yang baru lahir dan ia disuruh menemui istrinya yang  pertamanya yakni Siti Sarah yang berada di Yerussalem kota tempat Masjidil Aqsho.  Beliau meninggalkan beberapa potong roti dan sebuah guci berisi air untuk Siti Hajar  dan Ismail.  Pada waktu Siti Hajar kehabisan makanan dan air, ia melihat disebelah timur ada air yang ternyata adalah fatamorgana yaitu di Bukit Safa.
Di situ Ismail ditinggalkan dan Siti  Hajar naik Kebukit Marwah serta kembali ke Sofa sampai berulang tujuh kali, tapi tidak  juga mendapatkan air sampai ai kembali ke Bukit Marwah yang terakhir. Ia merasa  khawatir terhadap anaknya barangkali Ismail kehausan dilihat kaki Ismail bergerak-gerak  diatas tanah dan tiba-tiba keluar air dari dalam tanah. Siti Hajar berlari kebawah sambil  berteriak kegirangan :"zami-zami?" itulah kemudian menjadi sumur Zam-zam. Di situlah Siti Hajar  dan Nabi Ismail di padang pasir yang kering kerontang yang ditinggalkan oleh Nabi  Ibrahim dan ditempat itulah Allah SWT. Menetapkan sebagai tempat ibadah haji.  Bersambung…!!!



 
Pembina         : Drs. H Khudri Yusuf M.Pd, Penulis Ridho Fernanda

Jumat, 28 September 2012

PERANAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

dari orangtualah anak-anak mula-mula menerima pendidikan. Dan dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Pendidikan yang ditekankan tidak lain adalah pendidikan dengan konsep Islami yang menjadikan masalah penghambaan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada-Nya menjadi poros segala kehidupan. Perlu dicatat juga bahwa pendidikan jasmani anak termasuk ke dalam bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan jiwa, mental, dan kepribadian.
Tugas orang tua dalam mendidik anak sejak kecil adalah mengenalkan anak akan siapa Tuhannya, siapa yang mencipta dan mengurusi alam semesta ini, mengerti siapa nabinya, dan mengerti apa agamanya, sehingga anak mengerti dan paham akan tugas hidup di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah SWT semata dengan cara mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Anak dalam perspektif Islam sering diibaratkan dengan amanat, amanat dapat menjadi cobaan (fitnah ) bagi kedua orang tua. Menurut ajaran Islam anak itu adalah amanah Tuhan kepada ibu dan bapak. Setiap amanah haruslah dijaga dan dipelihara dan setiap pemeliharaan mengandung unsur kewajiban dan tanggung jawab. Sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran firman Allah SWT.
Adapun hakikat dan fungsi amanah tentang pemeliharaan anak-anak yang bersangkutan dalam hal ini ibu dan bapak, baik itu dilihat dari sudut biologis dan sosiologi. Setiap ibu dan bapak terbawa oleh pertalian darah dan turunan (biologis ) dipertautkan oleh satu ikatan ( unsur) yang paling erat dengan anaknya, yang tidak terdapat hubungan-hubungan yang lain. Hubungan itu disebut naluri ( insting ).
Dilihat dari sudut sosiologi, ibu-bapaknya berusaha anaknya menjadi orang yang baik dalam bermasyarakat, yang memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan mendapatkan manfaat kepada umat manusia. Orang tua atau ibu dan bapak memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya.
Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada di sampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ketika anak dilahirkan, orang tua juga diharuskan memperkenalkan kepada anaknya tentang makna keimanan. Tugas dan tanggung jawab orang tua tidak saja terbatas pada perkembangan fisik, tetapi yang jauh lebih penting adalah membentuk watak dan karakter anak.
Dengan demikian jelas, bahwa Islam menyuruh manusia melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya, berdasarkan pandangan bahwa anak sebagai makhluk yang sedang tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, memiliki kemampuan dasar yang dinamis dan responsif terhadap pengaruh dari luar dirinya, sehingga dalam proses pendidikan tidak perlu terjadi sikap otoriter, karena perbuatan demikian berlawanan dengan fitrah Allah SWT, yaitu kemampuan dasar manusia yang bisa berkembang sejalan dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan Islam menempatkan anak didik tidak saja menjadi objek pendidikan, melainkan juga memandangnya sebagai subjek pendidikan.
Alasan kesibukan, keterbatasan waktu dan kemampuan orang tua terkadang menjadi faktor mendasar untuk memasukkan anak pada lembaga pendidikan. Ditambah kurangnya pengetahuan tentang perkembangan anak dan sumber belajar di rumah yang tidak memadai.
         Tujuan Pendidikan dalam Islam
1) Pendidikan akhlak dalam Islam diarahkan pada tujuan yang tinggi yaitu melalui penerapan akhlak yang mulia
2) Meraih kerelaan Allah SWT dan berpegang teguh kepada perintahnya.
3) Menghormati manusia karena harkat dan kepribadiaannya
4) Membina potensi dan mengembangkan berbagai sifat yang baik dan kuat.
5) Mewujudkan keinginan yang baik dan kuat
6) Memelihara kebiasaan yang baik dan bermanfaat
7) Mengikis perilaku yang tidak baik pada manusia dan menggantikannya dengan    semangat kebaikan dan keutaman
Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Askara, 2008, hlm. 10
[2] Prof. Dr. Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an, Malang: Aditya Media & UIN Malang Press, 2004, hlm. 7
[3] Prof. Dr. Veithzal Rivai, Dr. Sylviana Murni, Education Management, Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Press, 2009, hlm. 1
PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN & HADITS
Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukanlah suatu agama kebodohan dan kegelapan. Wahyu yang pertama-tama diturunkan mengandung perintah membaca kepada Rasulullah saw. Pengulangan atas perintah tersebut dan penyebutan kembali mengenai masalah ilmu dan pendidikan itu, dapat kita rasakan menghubungkan soal pendidikan dengan Tuhan dalam ayat:[11]
Pendidikan berusaha mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri, untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal, seperti komsep, prinsip, kreaktivitas, tanggung jawab, dan keterampilan. Dengan kata lain perlu perlu mengalami perkembangan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Demikian juga individu juga makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan lingkungan sesamanya. Objek sosial ini akan berpengaruh terhadap perkembangan individu. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara perkembangan aspek individual dan aspek sosial.

Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya. Memberikan pengertian pentinganya pendidikan merupakan keharusan orang tua tatkala proses pendidikan dalam keluarga. Pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tua.
Pendidik dalam padangan Islam secara umum adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif, maupun potensi afektifnya. Potensi ini harus dikembangkan secara seimbang sampai ke tingkat setinggi mungkin, menurut ajaran Islam.[7] Maka inilah tugas orang tua tersebut berdasarkan firman Allah dalam surat al-Tahriim ayat 06 tersebut di atas. Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki anak adalah melalui pendidikan. Disinilah pentingnya pendidikan bagi umat manusia.
Dalam pandangan penulis, bahwa pada awalnya pendidikan merupakan murni tugas kedua orang tua, sehingga kedua orang tua tidak perlu mengirim anaknya ke sekolah, akan tetapi karena perkembangan ilmu pengetahun, keterampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah semakin luas, dalam, dan rumit, maka orang tua tidak mampu lagi melaksanakan sendiri tugas-tugas mendidik anaknya. Sekalipun demikian, secara teoritis seharusnya rumah tangga dan sekolah tetap menyadari sejarah pendidikan tersebut. Pengaruh pendidikan di dalam rumah tangga terhadap perkembangan anak memang sangat besar, mendasar dan mendalam.
Marimba (1989: 19) menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[8] Dari pendapat Marimba tersebut, dapat penulis simpulkan bahwa pentingnya pendidikan adalah untuk menumbuhkembangan potensi jasmani dan rohani yang dimiliki manusia demi terwujudnya manusia yang memiliki kepribadian-kepribadian yang utama dalam istilah agamanya adalah Insan Kamil dan menjadi hamba Allah SWT yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya.
Pentingnya pendidikan telah diungkapkan beberapa tokoh pendidikan Islam yang mengacu kepada definisi pendidikan Islam, yaitu:
  1. Abdurrahman al-Nahlawi mengemukakan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu tuntutan dan kebutuhan mutlak umat manusia, karena (a) untuk menyelamatkan anak-anak di dalam tubuh umat manusia pada umumnya dari ancaman.[5]
  2. Dr. Muhammad Fadil al-Jamaly (Guru Besar Pendidikan di universitas Tunisia) mengatakan bahwa pendidikan adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan yang mengangkat derajat kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar atau fitrah dan kemampuaan ajarannya (pengaruh dari luar).[6] Esensi pendidikan yang harus dilaksankan umat Islam menurut beliau adalah pendidikan yang memimpin manusia kea rah akhlak mulia dengan memberikan kesempatan keterbukaan terhadap pengaruh dari dunai luar dan perkembangan dari dalam diri manusia yang merupakan kemampuan dasar yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Pandangan beliau ini didasarkan pada firman Allah SWT yang berbunyi:

Sebagaimana dalam buku Ilmu Pendidikan karangan Drs. Abu Ahmadi, Imam Ghazali menyatakan dan anak itu sifatnya menerima semua yang dilakukan, yang dilukiskan dan condong kepada semua yang tertuju kepadanya. Jika anak itu dibiasakan dan diajari berbuat baik maka anak itu akan hidup berbahagia di dunia dan akhirat. Dan kedua orang tua serta semua guru-gurunya dan pendidik-pendidiknya akan mendapat kebahagian pula dari kebahagian itu. Tetapi jika dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja, maka anak itu akan celaka dan binasa. Maka yang menjadi ukuran dari ketinggian anak itu ialah terletak pada yang bertanggung jawab (pendidik) dan walinya.
Joan Beck dalam bukunya Asih, Asah, Asuh, Mengasuh dan Mendidik Anak Agar Cerdas , mengungkapkan, banyak proyek riset jangka lama menunjukkan bahwa intelegensi anak akan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi, bila sikap di rumah terhadap anak, hangat dan demokratis daripada dingin dan otoritas.
Mendidik anak dengan baik dan benar berati menumbuh-kembangkan totalitas potensi anak secara wajar. Potensi jasmaniah dan rohaniah anak diupayakan tumbuh dan berkembang secara selaras. Potensi jasmaniah anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-­kebutuhan jasmani, seperti pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan pengembangannya secara wajar melalui usaha pemahaman agama, pembinaan intelektual, perasaan, dan budi pekerti.
Perihal memilihkan lembaga pendidikan yang paling tepat bagi anak, merupakan agenda penting bagi para orang tua. Lembaga pendidikan tidak hanya berpengaruh pada perkembangan kognitif atau intelektual semata, melainkan berpengaruh pula pada perkembangan kepribadian anak, di mana ia akan bersosialisasi dengan sesama teman, guru, dan lingkungan di dalam lembaga pendidikan yang bersangkutan. Sehubungan dengan itu, maka orang tua hendaklah pandai-pandai dalam mengarahkan anaknya tatkala hendak memasuki sebuah lembaga pendidikan.
Banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak mereka setelah diserahkan kepada guru di sekolah maka lepaslah hak dan kewajibannya untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Semua tanggung jawabnya telah beralih kepada guru di sekolah, apakah menjadi pandai atau bodoh anak tersebut, akan menjadi nakal atau berbudi pekerti yang baik dan luhur, maka itu adalah urusan guru di sekolah. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, baik secara internal maupun secara eksternal.
Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri, yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal ialah faktor yang datang dari luar diri si anak, yang bisa meliputi 1) faktor sosial yang terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan kelompok; 2) Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian; 3) Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar dan iklim; dan 4) Faktor lingkungan spritual atau keagamaan.
http://www.orangtua.org/2011/12/17/anak-dan-pendidikannya/

TEKA TEKI IMAM AL-GHAZALI

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki ) :
Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Negeri Cina “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun keadaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
IMAM GHAZALI” Apa yang paling berat didunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT . Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “
Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “